Apa Itu Sistem Ground

√ Apa Itu Sistem Ground? Fungsi, Jenis dan Cara Kerjanya

Posted on

Finoo..id – √ Apa Itu Sistem Ground? Fungsi, Jenis dan Cara Kerjanya. Terkait dengan permasalahan kelistrikan, sistem ground menjadi aspek krusial dalam pemasangan listrik. Fungsi ini bertujuan untuk mengurangi potensi risiko kecelakaan listrik, seperti korsleting atau gangguan listrik lainnya, termasuk dampak sambaran petir.

Secara umum, masyarakat menyebutnya dengan istilah “arde”. Sistem ini menghubungkan instalasi listrik dengan tanah. Meskipun tidak langsung terhubung dengan instalasi listrik utama, sistem ground dipasang secara terpisah dengan tujuan untuk terhubung ke tanah. Dengan demikian, muatan listrik berlebih dapat dialirkan ke tanah tanpa membahayakan penghuni.

Keberadaan sistem ground ini sangat penting, terutama pada bangunan bertingkat tinggi, untuk mengarahkan langsung sambaran petir atau muatan listrik berlebih ke tanah. Pemilihan tanah dilakukan karena volume dan massa tanah yang besar dapat menjadikan muatan listrik berlebih menjadi netral, sehingga tidak menimbulkan risiko bahaya.

Apa Itu Sistem Ground?

Grounding merupakan sistem pentanahan yang melibatkan pemasangan jalur kabel khusus pada instalasi listrik rumah, mengarah ke titik pentanahan atau bumi. Sistem ini dipasang secara mandiri dan tidak berhubungan langsung dengan kabel-kabel lain dalam instalasi listrik, sering disebut juga sebagai arde.

Tujuan utama pemasangan Grounding adalah untuk menghilangkan perbedaan potensial dalam rangkaian listrik dengan mengalirkan arusnya ke tanah atau bumi. Perbedaan potensial ini dapat terjadi akibat kebocoran arus listrik atau dampak sambaran petir. Selain itu, Grounding juga berfungsi melepaskan muatan listrik yang berlebih.

Pengaliran arus listrik ke tanah bertujuan untuk menetralisir muatan listrik yang berlebihan. Pemilihan tanah sebagai medium ini didasarkan pada massa dan volume tanah yang sangat besar, sehingga mampu menetralkan muatan listrik yang signifikan, seperti dalam kasus sambaran petir.

Fungsi Sistem Ground

Sebagaimana diuraikan sebelumnya, grounding memiliki peran utama sebagai perlindungan atau pengaman aliran listrik. Semakin besar penggunaan listrik di suatu lokasi, semakin krusial peran sistem ini. Hal ini khususnya berlaku untuk bangunan bertingkat tinggi yang dilengkapi dengan penangkal petir. Berikut adalah penjelasan mengenai fungsi grounding:

1. Menjaga Keselamatan Penghuni

Grounding berperan penting dalam menjaga keselamatan penghuni. Saat terjadi muatan listrik berlebih akibat kebocoran listrik atau sambaran petir, sistem grounding akan mengalirkannya ke tanah. Dengan demikian, risiko bahaya seperti korsleting atau tersetrum dapat diminimalkan, menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi penghuni.

2. Pengaman Peralatan Listrik

Grounding tidak hanya berfokus pada keselamatan penghuni, tetapi juga melibatkan perlindungan terhadap peralatan listrik. Ketidakstabilan tegangan atau kebocoran listrik dapat merusak peralatan elektronik. Dengan adanya grounding, kelebihan muatan dapat dialirkan ke tanah, mencegah kerusakan pada peralatan dan menghindari potensi tersetrum bagi pengguna.

3. Mengalirkan Arus Listrik Petir

Sistem grounding berperan signifikan dalam menangani arus listrik yang dihasilkan oleh petir. Arus listrik petir memiliki magnitudo yang besar, dan grounding berfungsi sebagai jalur yang aman untuk menyalurkannya ke tanah sebelum dapat menyebabkan bahaya bagi manusia dan peralatan elektronik. Dengan demikian, grounding berperan sebagai perisai yang efektif dalam menghadapi potensi bahaya akibat petir.

Baca Juga :   Urutan Daya Listrik PLN Paling Teopat Sesuai Kebutuhan

Cara Kerja Sistem Ground

Sistem ini beroperasi melalui penggunaan kabel khusus yang dikenal sebagai kabel grounding. Kabel ini menghubungkan sumber listrik utama dalam instalasi secara langsung ke tanah. Pada rumah tinggal, kabel grounding dipasang pada kwh meter dan umumnya terdiri dari kabel positif, kabel negatif, dan kabel grounding.

Sementara itu, pada instalasi penangkal petir di gedung tinggi, strukturnya terpisah dan menghubungkan rod (tiang besi) penangkal petir di atas gedung secara langsung ke tanah menggunakan kabel yang masuk ke dalam tanah, memastikan saluran yang efisien.

Fungsi kabel grounding adalah mengalirkan lompatan listrik statis yang berlebihan secara langsung ke tanah. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya percikan api yang dapat menyebabkan korsleting, yang dapat berbahaya bagi manusia dan merusak peralatan elektronik.

Penting untuk memastikan bahwa kabel ini sepenuhnya tertanam di dalam tanah dan bukan hanya diletakkan di permukaan. Ada batasan hambatan maksimum yang diizinkan, yakni sebesar 5 Ohm, mengingat mustahil untuk mencapai grounding 100%.

Pendekatan yang berbeda perlu diterapkan pada berbagai jenis dan ukuran kapal laut. Meskipun dilengkapi dengan penangkal petir di bagian atas kapal, sebenarnya seluruh badan kapal yang terbuat dari logam mampu menyerap muatan listrik petir dan mengalirkannya ke air laut sebagai saluran pengaliran yang alami.

Jenis-Jenis Sistem Ground

Sistem pengamanan ini memiliki variasi berdasarkan fungsi dan cara pemasangannya. Berikut adalah penjelasannya:

1. Safety Grounding

Safety Grounding adalah istilah yang umumnya diterapkan pada pemasangan arde yang saat ini banyak digunakan, baik di rumah tinggal maupun gedung umum. Nama ini dipilih karena tujuannya adalah untuk meningkatkan keamanan terhadap potensi lompatan listrik. Sistem ini menjadi penting untuk melindungi penghuni dan peralatan dari risiko korsleting dan kejadian listrik berbahaya.

2. RF Grounding

RF Grounding merupakan jenis pemasangan arde yang sering digunakan untuk melindungi berbagai perangkat komunikasi seperti radio. Grounding pada Radio Frequency (RF) ini menggunakan prinsip arde untuk mengurangi dampak dari radiasi. Hal ini bertujuan untuk menjaga kualitas sinyal dan kinerja perangkat komunikasi dengan memastikan pengaliran arus yang efektif ke tanah.

3. Single Grounding

Sistem penangkal petir ini mengadopsi pendekatan dengan menancapkan pasak dari bahan logam, khususnya tembaga, ke dalam tanah. Pilihan logam ini dipkalianng efektif sebagai konduktor atau penghantar listrik yang baik. Single Grounding digunakan untuk menciptakan jalur yang efisien agar muatan listrik dari petir dapat langsung disalurkan ke tanah, mengurangi risiko bahaya akibat sambaran petir pada bangunan atau peralatan yang terpasang.

4. Parallel Grounding

Sistem Parallel Grounding memiliki kesamaan dengan Single Grounding, namun dengan menggunakan dua batang logam sebagai pasak untuk mengalirkan kelebihan muatan listrik ke dalam tanah. Kedua batang logam ini dihubungkan dengan menggunakan kabel BC (bare core atau kawat telanjang) atau BCC (Bare Copper Core atau kawat tembaga telanjang). Pendekatan ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi dalam mengalirkan arus listrik ke tanah, meminimalkan resistansi, dan meningkatkan keamanan dalam menangani muatan listrik berlebih.

5. Multi Grounding

Jenis Multi Grounding mengadopsi pendekatan yang berbeda dengan tidak menggunakan batang logam, melainkan lembaran tembaga yang disebut sebagai “Copper Earthing Plate.” Lembaran tembaga ini diikat dengan kabel BC dan ditempatkan di tanah. Selanjutnya, seringkali dilapisi dengan cairan semen atau tanah liat di atasnya. Tujuan dari penambahan lapisan ini adalah untuk meningkatkan kualitas resistansi sistem grounding. Dengan menggunakan Copper Earthing Plate, sistem Multi Grounding dirancang untuk memberikan efisiensi yang optimal dalam mengalirkan arus listrik ke tanah, mengurangi risiko resistansi tinggi, dan meningkatkan kinerja keseluruhan sistem grounding.

Baca Juga :   Penyebab Sekring Listrik Berbunyi & Cara Mengatasinya

Pemasangan Grounding Rumah Tinggal

Ada beberapa langkah krusial yang harus diperhitungkan ketika hendak memasang sistem grounding untuk rumah tinggal. Silakan perhatikan penjelasan dan langkah-langkah berikut:

1. Menentukan Titik Tanam

Sebelum memulai pemasangan sistem grounding, langkah awal yang sangat penting adalah menentukan titik tanam yang tepat. Hindari menanam tiang grounding di tanah yang berbatu atau berpasir, karena keduanya bukanlah media yang efektif untuk menetralkan listrik. Pemilihan lokasi tanam yang tepat akan memastikan efisiensi sistem grounding. Selain itu, disarankan untuk tidak hanya mengkalianlkan satu titik grounding, melainkan mempertimbangkan penggunaan beberapa titik grounding. Semakin banyak titik grounding, semakin aman bagi instalasi listrik di rumah.

2. Pemasangan Paralel

Jika jumlah tiang grounding yang akan dipasang lebih dari satu, penting untuk menanamnya dengan jarak terpisah sekitar lima meter. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa aliran listrik dapat tersebar merata di seluruh penjuru rumah. Dengan adanya pemasangan paralel, muatan listrik dapat didistribusikan secara optimal, mengurangi risiko ketidakseimbangan arus listrik dan meningkatkan efisiensi sistem grounding secara keseluruhan. Langkah ini sangat penting untuk menciptakan lingkungan listrik yang aman dan kalianl di dalam rumah tinggal.

3. Bahan Tiang Grounding

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, pemilihan bahan yang optimal untuk menghantarkan listrik pada tiang grounding adalah tembaga. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memilih tiang yang terbuat dari tembaga padat ketika akan melakukan penanaman. Pilihan ini memastikan bahwa konduktivitas listrik dalam sistem grounding mencapai tingkat maksimal. Dengan menggunakan tiang grounding berbahan tembaga, kualitas dan kinerja sistem ground dapat dioptimalkan, menciptakan lingkungan listrik yang lebih aman dan kalianl.

4. Menanam Tiang Grounding

Langkah selanjutnya dalam memasang sistem grounding adalah menanam tiang grounding dengan cermat. Basahi tanah yang akan dijadikan titik penanaman tiang ground untuk memudahkan penetrasi. Buatlah galian dengan kedalaman minimal 50 cm, namun disarankan untuk menanam tiang lebih dalam jika memungkinkan. Setelah itu, tanamkan tiang grounding ke dalam tanah dengan hati-hati. Proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa tiang grounding terpasang dengan kokoh dan meresap ke dalam tanah dengan baik, sehingga dapat berfungsi secara optimal dalam menyalurkan muatan listrik ke tanah.

5. Menyambungkan Kabel

Proses selanjutnya dalam memasang sistem grounding adalah menyambungkan kabel tembaga ke tiang grounding. Koneksi ini biasanya dilakukan dengan cara dilas untuk memastikan hubungan yang kuat dan kalianl. Penting untuk menjaga agar tiang grounding tetap kering, sehingga proses penyambungan dapat berlangsung dengan baik. Pastikan sambungan kabel ke tiang grounding benar-benar kokoh untuk mencegah terlepasnya koneksi yang dapat mengurangi efisiensi sistem grounding.

6. Menanam Kabel Grounding

Setelah proses penyambungan selesai, langkah berikutnya adalah menanam kabel grounding dengan hati-hati. Untuk menjaga keamanan dan kekalianlan sistem, disarankan untuk melindungi kabel dengan membungkusnya menggunakan pipa PVC berdiameter 4 inci sebelum menanamnya. Kedalaman penanaman kabel sebaiknya mencapai setidaknya 40 cm atau lebih, tergantung pada kondisi tanah dan rekomendasi spesifik. Penting untuk memberikan tkalian jalur kabel, baik dengan penkalianan fisik atau peta, untuk memudahkan pemeriksaan dan pemeliharaan di masa mendatang. Dengan langkah-langkah ini, kekalianlan dan efisiensi sistem grounding dapat dipertahankan dengan baik.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Sistem Ground

Dikarenakan kepentingan sistem ini dalam menjaga keamanan penghuni, perhatikanlah beberapa hal berikut untuk dapat memaksimalkan manfaat dari pembuatan grounding:

Baca Juga :   Biaya Ganti Meteran Listrik ke Token Serta Syarat & Pengajuanya

1. Pemilihan Bahan

Untuk mencapai tingkat keamanan maksimal, sangat penting untuk memperhatikan pemilihan bahan yang digunakan. Pilihlah bahan dengan mutu yang baik, terutama dalam pemilihan kabel dan tiang grounding. Tembaga merupakan pilihan yang sangat dianjurkan karena memiliki konduktivitas listrik yang optimal. Kabel dengan diameter yang besar disarankan, sejalan dengan kapasitas daya maksimal dalam instalasi. Dengan memilih bahan yang berkualitas tinggi, kekalianlan sistem grounding dapat ditingkatkan, sehingga risiko kejadian listrik yang tidak diinginkan dapat diminimalkan.

2. Kedalaman Grounding

Untuk mencapai nilai resistansi terbaik, penting untuk memperhatikan kedalaman penanaman tiang grounding. Disarankan untuk menanam tiang setidaknya 50 cm dari permukaan tanah. Semakin dalam penanaman tiang, nilai resistansi dapat ditingkatkan, sehingga efisiensi sistem grounding pun meningkat. Langkah ini dapat membantu dalam menjamin aliran listrik yang optimal ke tanah, mengurangi potensi risiko bahaya listrik, dan memberikan tingkat keamanan yang lebih tinggi untuk penghuni dan instalasi listrik.

3. Jumlah Titik Grounding

Meskipun tidak ada hitungan khusus untuk menentukan jumlah titik grounding yang diperlukan, namun para teknisi umumnya mempertimbangkan besarnya beban listrik pada instalasi di lokasi tersebut. Sebagai contoh, sebuah rumah tinggal mungkin tidak memerlukan banyak titik grounding dibandingkan dengan gedung bertingkat. Evaluasi ini memastikan bahwa sistem grounding sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas daya yang diperlukan, menciptakan lingkungan listrik yang efisien dan aman.

4. Jenis dan Resistansi Tanah

Penting untuk menghindari penanaman tiang grounding di tanah yang berbatu atau berpasir, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Nilai resistansi maksimal yang diizinkan adalah 5 Ohm, sehingga pemilihan jenis tanah juga perlu diperhatikan. Tanah biasanya memiliki nilai resistansi antara 0 hingga 5 Ohm, dan tanah dengan nilai resistansi ini dianggap sebagai jenis tanah dengan performa terbaik untuk sistem grounding.

Para teknisi yang berpengalaman dalam penanganan penangkal petir dan instalasi listrik biasanya menggunakan alat penguji tanah (Earth Tester) untuk mengukur nilai resistansi tanah. Dengan alat ini, mereka dapat menentukan lokasi terbaik untuk penanaman tiang grounding, memastikan bahwa resistansi tanah sesuai dengan stkalianr yang telah ditetapkan, dan sistem grounding dapat beroperasi secara optimal.

BACA JUGA :

Kesimpulan

Dalam kesimpulan, sistem ground atau sistem grounding merupakan aspek kritis dalam instalasi listrik yang bertujuan utama untuk menjaga keamanan dan kinerja optimal.

Apakah dalam konteks rumah tinggal atau gedung bertingkat, pemahaman mendalam mengenai apa itu sistem ground menjadi sangat penting.

Dari pemilihan bahan, kedalaman penanaman, hingga jumlah titik grounding, semua faktor ini berkontribusi pada efektivitas sistem dalam menyalurkan muatan listrik berlebih ke tanah.

Oleh karena itu, penerapan sistem grounding yang tepat akan memberikan perlindungan maksimal terhadap bahaya listrik dan memastikan operasional listrik yang aman dan kalianl.

Dengan demikian, pemahaman mendalam terkait sistem grounding akan menjadi lkaliansan utama untuk membangun lingkungan listrik yang aman dan efisien.

Demikianlah artikel finoo.id yang membahas tentang √ Apa Itu Sistem Ground? Fungsi, Jenis dan Cara Kerjanya. Semoga artikel kami dapat bermanfaat dan terimakasih telah membaca artikel ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *